Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Kesehatan

Indonesia Mencatat 8 Juta Orang Berusia di Atas 50 Tahun yang Menderita Kebutaan, Ini Dua Faktor Penyebab Utamanya

668
×

Indonesia Mencatat 8 Juta Orang Berusia di Atas 50 Tahun yang Menderita Kebutaan, Ini Dua Faktor Penyebab Utamanya

Sebarkan artikel ini
Jumlah Orang Berusia di Atas 50 Tahun yang Menderita Kebutaan di Indonesia Mencapai 8 Juta, Ini Dua Faktor Penyebab Utamanya

MataKalbar.com – Hampir 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan. Setengah dari kondisi tersebut belum dapat dicegah atau ditangani karena kurangnya akses layanan perawatan mata sederhana. Neovascular Age-Related Macular Degeneration (nAMD) dan Diabetic Macular Edema (DME) menjadi dua penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan. Kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja, terlibat secara sosial dan hidup mandiri, sehingga menyebabkan depresi dan kecemasan.

Di Indonesia, ada sekitar 8 juta orang berusia di atas 50 tahun yang mengalami masalah gangguan penglihatan. Di antaranya, diperkirakan terdapat 700 ribu pasien yang terdampak oleh nAMD dan DME. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, penyebab utama gangguan penglihatan adalah kelainan refraksi, sedangkan penyebab utama kebutaan adalah katarak. Selain itu, faktor degeneratif dan penyakit kronis juga merupakan risiko terjadinya penyakit mata lainnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

AMD adalah suatu kondisi yang mempengaruhi makula, bagian mata yang terkait dengan penglihatan sentral dan tajam yang diperlukan untuk aktivitas seperti membaca. AMD basah, atau neovaskular, adalah bentuk penyakit AMD lanjut yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara cepat dan parah jika tidak diobati. AMD muncul saat seseorang berusia di atas lima puluh tahun. Sementara DME adalah sebuah kondisi mata serius yang mempengaruhi pasien dengan diabetes (tipe 1 atau tipe 2). DME disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah yang mengeluarkan cairan dan menyebabkan pembengkakan, sehingga mengaburkan penglihatan dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang parah hingga kebutaan jika tidak diobati.

Untuk mengobati kondisi retina yang mengancam penglihatan, sebuah inovasi pengobatan berupa injeksi mata dari Roche, faricimab hadir menargetkan VEGF-A dan Ang-2. Inovasi ini memungkinkan pasien mendapatkan suntikan dengan selang waktu 4 bulan setelah tahun pertama, dibandingkan suntikan yang harus diberikan setiap sebulan sekali pada terapi yang sudah ada. Faricimab dirancang untuk menghambat jalur yang melibatkan Ang-2 dan VEGF-A, yang dapat menstabilkan pembuluh darah dan mengurangi kebocoran pembuluh darah dan peradangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *